Konsumsi Telur Mentah, Sehatkah ?

Foto

Femalezone.info – Telur merupakan sumber protein, lemak, mineral, dan vitamin yang baik bagi tubuh. Namun masih banyak yang bertanya-tanya mana yang sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan mentah, setengah matang atau rebus dan bagaimana pengaruh pemasakan terhadap nilai gizinya.

Ahli kesehatan biasanya tidak menganjurkan konsumsi telur mentah. Di dalam putih telur terdapat avidin, suatu protein yang dapat mengikat biotin (vitamin B7) sehingga tidak diserap oleh usus dan akhirnya dikeluarkan bersama feses. Padahal biotin sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan sel, metabolisme lemak dan asam amino.

Keracunan oleh avidin dapat menimbulkan gejala sebagai berikut : dermatitis, kebotakan dan kelainan saraf. Avidin dapat dihancurkan aktivitasnya dengan cara memanaskan pada suhu 18° Celcius selama 5 menit (pada suhu yang lebih tinggi diperlukan waktu lebih singkat).

Ovomkoid juga merupakan protein yang terdapat dalam putih telur mentah. Protein ini menginkatifkan tripsin yang berperan dalam enzim pencernaan protein. Daya cerna yang rendah menunjukkan makin banyak bagian makanan yang terbuang ke feses. Tidak seperti halnya dengan avidin, ovomkoid merupakan protein yang relatif lebih stabil terhadap pemanasan. Sekitar 90% aktivitasnya dapat dihancurkan dengan pemanasan pada suhu 80 celcius selama 30 menit, dan seluruh aktivitasnya akan hilang dengan pemanasan pada suhi 90 celcius selama 15 menit.

Meskipun telah dibuktikan bahwa ovomkoid tidak berpengaruh pada tripsin manusia, namun nampaknya proses pencernaan anak kecil lebih peka dibandingakan orang dewasa. Jadi sebaiknya telur mentah tidak diberikan pada bayi dan anak-anak, bahkan untuk anak yang berumur kurang dari satu tahun sebaiknya diberikan telur rebus, bukan telur setengah matang.

Salmonella adalah suatu bakteri yang dapat menimbulkan keracaunan (Salmonella food poisoning), dengan gejala-gejala seperti mual-mual, muntah, sakit perut, sakit kepala,kedinginan, deman dan diare. Bakteri ini dapat mengkontaminasi telur sewaktu telur masih dalam indung ayam, tetapi yang sering terjadi adalah ketika telur dikeluarkan, terutama apabila kebersihan kandang dan lingkungan kurang diperhatikan. Pencucian telur dapat mempertinggi masuknya bakteri ke dalam telur, karena itu sebaiknya dipilih telur yang bersih (tidak terkena kotoran ayam).

Salmonella dapat diinkatifkan dengan melakukan pemanasan. Untuk menghindari terjadinya keracunan akibat salmonella, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengharuskan melakukan pemanasan (pasteurisasi) selama 3,5 menit pada suhu 56,70° celcius atau 6,2 menit pada suhu 55,50° celcius untuk putih telur, atau 6,2 menit pada suhu 60° celcius untuk telur utuh. Untuk menghindari keracunan salmonella, bila telur yang akan dikonsumsi dalam keadaan kotor lebih baik tidak dikonsumsi dalam keadaan mentah, walaupun telur itu ditujukan untuk orang dewasa.

Masalah lain yang perlu diperhatikan dalam mengkonsumsi telur bagi orang dewasa (terutama untuk usia 40th lebih atau yang mempunyai kecenderungan mengidap penyakit jantung koroner) adalah kandungan kolesterol yang terdapat dalam kuning telur. Kadar kolesterol yang terdapat dalam kuning telur sekitar 250 mg per butir. Para ahli gizi menganjurkan agar orang dewasa hanya mengkonsumsi telur paling banyak 4 butir per minggu.

Proses penggoregan akan menurunkan nilai gizi protein telur, meskipun relatif tidak banyak. Telur mata sapi nilai kandungan gizinya lebih rendah daripada telur rebus, dan telur dadar lebih rendah lagi. Dalam hubungan ini kita harus memilih apakah kita mengutamakan faktor rasa atau faktor nilai gizi proteinya.

Sumber : dr. Nurul Wijiani (Pengasuh Rubrik Majalah Al Falah)

Income Search :
Rate this article!
Tags:

Leave a Reply